Pendahuluan
Alhamdulillah, tidak terasa satu hari lagi umat Islam akan memasuki Hari Raya Idul Adha 1447 H. Hari yang penuh kemuliaan, hari pengorbanan, hari keikhlasan, dan hari kepedulian sosial. Di tengah gema takbir yang mulai berkumandang, umat Islam di seluruh dunia bersiap menunaikan ibadah qurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Namun qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ia adalah simbol ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya, pelajaran tentang keikhlasan, serta bukti nyata kepedulian terhadap sesama. Karena itu, penting bagi kita memahami makna qurban bukan hanya dari sisi syariat, tetapi juga dari sisi spiritual dan sosialnya.
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:
“لَيْسَ الْمَقْصُودُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ اللَّحْمَ وَالدَّمَ، بَلِ الْمَقْصُودُ تَزْكِيَةُ النَّفْسِ بِالْبَذْلِ وَالتَّقْوَى”
“Tujuan qurban bukanlah daging dan darahnya, melainkan penyucian jiwa melalui pengorbanan dan ketakwaan.”
Perkataan ini menegaskan bahwa ruh utama qurban adalah ketakwaan dan penghambaan kepada Allah SWT.
Pengertian Qurban
Secara bahasa, qurban berasal dari kata:
قَرُبَ – يَقْرُبُ – قُرْبَانًا
yang berarti “mendekat”.
Disebut qurban karena ibadah ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Adapun secara syariat, qurban adalah:
Menyembelih hewan tertentu pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hewan qurban meliputi unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba dengan syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan syariat.
Imam Nawawi رحمه الله berkata:
“الْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَشَعِيرَةٌ ظَاهِرَةٌ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ”
“Qurban adalah sunnah muakkadah dan syiar Islam yang sangat tampak.”
Artinya, qurban bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga syiar besar Islam yang menunjukkan hidupnya agama di tengah masyarakat.
Dasar Disyariatkannya Qurban
Allah SWT berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah (hewan qurban).”
(HR. Tirmidzi)
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan:
“أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ فِي يَوْمِ النَّحْرِ إِهْرَاقُ الدَّمِ”
“Ibadah paling utama pada hari Nahr adalah menumpahkan darah qurban.”
Karena qurban menggabungkan ibadah harta, ketundukan, dan kepedulian sosial sekaligus.
Sejarah Agung di Balik Ibadah Qurban
Qurban memiliki akar sejarah yang sangat agung, yaitu kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS.
Ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya sendiri, beliau tidak membantah. Begitu pula Nabi Ismail AS menerima perintah itu dengan penuh ketundukan.
Allah SWT mengabadikan dialog mereka:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Ketika keduanya telah benar-benar tunduk kepada Allah, maka Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Dari sinilah ibadah qurban menjadi syiar besar umat Islam hingga hari ini.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani رحمه الله berkata:
“إِذَا ذَبَحْتَ الْأُضْحِيَّةَ فَاذْبَحْ مَعَهَا شَهَوَاتِ نَفْسِكَ”
“Ketika engkau menyembelih hewan qurban, sembelih pula hawa nafsumu.”
Maksudnya, qurban sejati bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih kesombongan, ketamakan, dan hawa nafsu dalam diri manusia.
Hikmah dan Pelajaran dari Ibadah Qurban
1. Melatih Keikhlasan
Qurban mengajarkan bahwa ibadah terbaik adalah ibadah yang dilakukan semata karena Allah. Tidak untuk dipuji, tidak untuk status sosial, dan tidak untuk pencitraan.
Seekor hewan yang disembelih sejatinya adalah simbol penyembelihan sifat tamak, ego, dan cinta dunia dalam diri manusia.
2. Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Idul Adha adalah momentum berbagi kebahagiaan. Banyak saudara kita yang mungkin hanya setahun sekali menikmati daging, yaitu saat hari qurban.
Karena itu qurban bukan hanya ibadah individual, tetapi juga ibadah sosial yang mempererat ukhuwah dan kepedulian.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:
“لَوْ عَلِمَ النَّاسُ مَا فِي الْأُضْحِيَّةِ مِنَ الْفَضْلِ لَاسْتَدَانُوا لَهَا”
“Seandainya manusia mengetahui keutamaan qurban, niscaya mereka rela berhutang untuk melaksanakannya.”
Ungkapan ini menunjukkan betapa agung pahala qurban di sisi Allah SWT.
3. Menghidupkan Sunnah Nabi Ibrahim AS
Setiap tetes darah qurban mengingatkan umat Islam pada keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menaati perintah Allah tanpa syarat.
4. Bentuk Syukur atas Nikmat Allah
Tidak semua orang diberi kemampuan untuk berqurban. Maka ketika Allah melapangkan rezeki seseorang hingga mampu membeli hewan qurban, itu adalah nikmat besar yang patut disyukuri.
Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata:
“لَا أُرَخِّصُ لِمَنْ قَدَرَ عَلَى الْأُضْحِيَّةِ أَنْ يَدَعَهَا”
“Aku tidak memberi keringanan bagi orang yang mampu untuk meninggalkan qurban.”
Artinya, jangan sampai seseorang mampu memenuhi kebutuhan duniawinya tetapi enggan berqurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hukum Qurban
Mayoritas ulama berpendapat bahwa qurban hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu.
Dalam mazhab Hanafi, qurban bahkan dianggap wajib bagi orang yang memiliki kemampuan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barang siapa memiliki kelapangan rezeki namun tidak berqurban, maka jangan mendekati tempat shalat kami.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap ibadah qurban.
Penutup
Menjelang Idul Adha 1447 H ini, mari kita sambut hari raya dengan memperbanyak takbir, dzikir, istighfar, dan amal saleh. Bagi yang mampu, jangan sia-siakan kesempatan berqurban. Karena boleh jadi inilah qurban terbaik dalam hidup kita.
Karena sesungguhnya:
bukan dagingnya yang sampai kepada Allah,
melainkan ketakwaan dari hati kita.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, menerima qurban kaum muslimin, melimpahkan keberkahan kepada para pekurban, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima amal dari kami dan dari kalian.”
Selamat menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Semoga keberkahan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada kita semua.
