Hikmah Ke-4

Kitab Al-Hikam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari

Teks Hikmah

اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ

Latin

Ijtihāduka fīmā ḍumina laka wa taqṣīruka fīmā ṭuliba minka dalīlun ‘alā inṭimāsil-baṣīrati minka.

Artinya

“Kesungguhanmu dalam mengejar sesuatu yang telah dijamin untukmu, dan kelalaianmu terhadap apa yang dituntut darimu, merupakan tanda tertutupnya mata hati.”


Penjelasan Hikmah

Dalam hikmah ini, Imam Ibnu ‘Athaillah رحمه الله memberikan peringatan tentang keadaan manusia yang sering terbalik dalam memandang kehidupan. Banyak orang menghabiskan tenaga, pikiran, dan waktunya hanya untuk mengejar urusan dunia yang sebenarnya telah dijamin oleh Allah ﷻ, namun pada saat yang sama justru lalai terhadap kewajiban yang diperintahkan kepadanya.

Manusia sangat khawatir tentang:

  • rezeki,
  • pekerjaan,
  • keuntungan,
  • masa depan,
  • dan urusan dunia lainnya.

Akan tetapi, ia sering menunda:

  • shalat,
  • dzikir,
  • taubat,
  • menuntut ilmu,
  • membaca Al-Qur’an,
  • bahkan kewajiban terhadap sesama.

Padahal Allah ﷻ telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa rezeki berada dalam jaminan Allah, bukan semata-mata hasil kecerdasan, kekuatan, atau usaha manusia.


Maksud “Sesuatu yang Dijamin”

Yang dimaksud dengan sesuatu yang dijamin adalah perkara-perkara duniawi yang telah Allah tetapkan bagi setiap hamba, seperti:

  • rezeki,
  • ajal,
  • jodoh,
  • kesehatan,
  • dan bagian kehidupan dunia lainnya.

Tidak ada manusia yang dapat mengambil rezeki orang lain, dan tidak ada rezeki yang tertukar.

Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk berusaha dengan cara yang halal, namun tidak menjadikan dunia sebagai pusat kegelisahan hidupnya.


Maksud “Apa yang Dituntut Darimu”

Adapun yang dituntut dari manusia adalah:

  • beribadah kepada Allah,
  • menjaga shalat,
  • menjalankan kewajiban,
  • meninggalkan maksiat,
  • memperbaiki akhlak,
  • menuntut ilmu agama,
  • serta membersihkan hati dari sifat tercela.

Inilah tujuan utama penciptaan manusia.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)


Tertutupnya Mata Hati

Imam Ibnu ‘Athaillah menyebut keadaan ini sebagai:

انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ

“tertutup atau butanya mata hati.”

Maksudnya, seseorang kehilangan kejernihan dalam memandang hakikat kehidupan. Ia lebih sibuk mengejar sesuatu yang sudah dijamin, namun lalai terhadap sesuatu yang akan menentukan keselamatannya di akhirat.

Mata fisik mungkin masih melihat, tetapi mata hati tidak mampu melihat kebenaran secara sempurna.


Hikmah Ini Bukan Larangan Bekerja

Perlu dipahami bahwa hikmah ini bukan ajakan untuk meninggalkan usaha atau bekerja. Islam tetap memerintahkan umatnya untuk berikhtiar dan mencari nafkah yang halal.

Para nabi, sahabat, dan ulama juga bekerja:

  • Nabi Dawud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi,
  • Nabi Muhammad ﷺ berdagang,
  • banyak ulama memiliki usaha dan pekerjaan.

Yang tercela bukanlah usahanya, tetapi:

  • hati yang terlalu bergantung kepada usaha,
  • keyakinan bahwa rezeki datang semata dari kemampuan diri,
  • serta kesibukan dunia yang membuat lalai dari Allah.

Karena itu para ulama mengatakan:

“Berusahalah dengan anggota badanmu, tetapi bertawakallah dengan hatimu.”


Tanda-Tanda Terlalu Sibuk Dengan Dunia

Di antara tanda seseorang terlalu tenggelam dalam urusan dunia adalah:

1. Sangat disiplin dalam urusan dunia, tetapi lalai ibadah

Datang kerja tepat waktu, namun sering menunda shalat.

2. Gelisah berlebihan soal rezeki

Hatinya penuh kecemasan seakan-akan rezeki berada di tangannya sendiri.

3. Sulit meluangkan waktu untuk ilmu agama

Memiliki waktu panjang untuk urusan dunia, tetapi merasa berat menghadiri majelis ilmu.

4. Menghalalkan segala cara demi keuntungan

Tidak lagi memperhatikan halal dan haram.

5. Merasa keberhasilan murni karena dirinya

Lupa bahwa semua terjadi atas izin Allah ﷻ.


Pelajaran Penting Dari Hikmah Ini

1. Dahulukan kewajiban kepada Allah

Jangan sampai dunia membuat lalai dari tujuan hidup yang sebenarnya.

2. Perbaiki tawakal

Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi tidak menggantungkan hati kepada selain Allah.

3. Dunia hanyalah sarana

Harta, pekerjaan, dan jabatan hanyalah alat untuk mendekat kepada Allah, bukan tujuan akhir kehidupan.

4. Rezeki tidak akan tertukar

Apa yang telah Allah tetapkan untuk seseorang pasti akan sampai kepadanya.

5. Fokus pada amal yang diperintahkan

Karena yang akan ditanya di akhirat bukan seberapa banyak harta yang dikumpulkan, tetapi bagaimana kehidupan dijalani dalam ketaatan.


Penutup

Hikmah ke-4 ini mengajarkan keseimbangan hidup seorang mukmin: bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Seorang hamba hendaknya:

  • bekerja tanpa melupakan ibadah,
  • mencari rezeki tanpa kehilangan tawakal,
  • serta hidup di dunia tanpa menjadikan dunia menguasai hatinya.

“Bekerjalah untuk duniamu secukupnya, dan beramallah untuk akhiratmu sebanyak-banyaknya.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top