Menimbang Ikhtiar dan Ketentuan Allah dalam Perjalanan Hamba
Pada rangkaian kajian Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari, kita sampai pada Hikmah ke-7 yang mengajarkan tentang posisi manusia di tengah sebab (ikhtiar) dan ketetapan Allah (tadbir Ilahi).
Beliau berkata:
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَتِهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ
“Keinginanmu untuk meninggalkan sebab (ikhtiar duniawi) padahal Allah menempatkanmu di dalamnya, itu termasuk hawa nafsu yang tersembunyi. Dan keinginanmu kepada sebab padahal Allah menempatkanmu dalam keadaan ketergantungan kepada-Nya, itu merupakan penurunan dari cita-cita ruhani yang tinggi.”
Memahami Kedudukan Ikhtiar dan Tawakal
Hikmah ini mengajarkan keseimbangan halus antara usaha manusia (ikhtiar) dan ketetapan Allah (tawakal dan penyerahan diri).
Dalam kehidupan, Allah menempatkan setiap hamba pada kondisi yang berbeda-beda:
- Ada yang diperintahkan untuk berusaha secara lahiriah melalui pekerjaan, perdagangan, pertanian, dan aktivitas dunia lainnya.
- Ada pula yang diuji dengan ketenangan hati dalam ketergantungan penuh kepada Allah.
Kesalahan sering terjadi ketika manusia tidak memahami posisi yang Allah tetapkan untuk dirinya.
Ketika Menghindari Sebab Bukanlah Zuhud
Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan usaha dunia adalah bentuk kedekatan kepada Allah. Namun Hikmah ini menegaskan bahwa:
meninggalkan sebab padahal Allah menempatkan seseorang dalam jalur sebab bisa menjadi bentuk keinginan tersembunyi yang disalahpahami sebagai zuhud.
Artinya, seseorang bisa saja tampak “meninggalkan dunia”, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti keinginan batinnya sendiri, bukan perintah Allah.
Zuhud yang benar bukan meninggalkan dunia, tetapi tidak bergantung hati kepada dunia.
Ketika Berpaling dari Tawakal yang Benar
Sebaliknya, ada orang yang justru merasa lebih baik dengan memperbanyak sebab dan mengandalkan usaha semata, padahal Allah sedang mendidiknya untuk lebih bersandar kepada-Nya.
Mereka merasa aman dengan kerja, strategi, dan perhitungan, namun lupa bahwa:
sebab hanyalah perantara, bukan penentu hasil.
Jika hati mulai bergantung pada sebab, maka di situlah nilai tawakal perlahan melemah.
Keseimbangan Seorang Hamba
Hikmah ini tidak mengajarkan untuk meninggalkan usaha, dan juga tidak memerintahkan untuk meninggalkan tawakal.
Yang diajarkan adalah:
- Berada di posisi yang Allah tetapkan
- Menjalani sebab tanpa bergantung padanya
- Dan bersandar penuh kepada Allah dalam setiap keadaan
Seorang hamba tidak dipuji karena meninggalkan dunia, dan tidak pula tercela karena berada di dalamnya. Yang dinilai adalah di mana hatinya bersandar.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
Dari Hikmah ke-7 ini, terdapat beberapa pelajaran penting:
- Ikhtiar adalah bagian dari ketetapan Allah yang harus dijalani sesuai kondisi.
- Meninggalkan sebab bukan selalu tanda kesalehan, jika itu tidak sesuai dengan keadaan yang Allah tetapkan.
- Bergantung kepada sebab adalah bentuk kelemahan tauhid.
- Kedudukan hati lebih penting daripada bentuk lahiriah amal.
- Tawakal yang benar adalah menjalani sebab dengan hati yang bersandar kepada Allah.
Penutup
Hikmah ke-7 ini mengingatkan bahwa perjalanan spiritual bukan tentang memilih “hidup tanpa sebab” atau “hidup dengan sebab”, tetapi tentang bagaimana hati tetap tertaut kepada Allah dalam setiap keadaan.
Dalam dunia yang penuh perhitungan dan usaha ini, seorang mukmin dituntut untuk tetap berjalan di atas sebab, namun tidak pernah kehilangan sandaran kepada Sang Pencipta sebab itu sendiri.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menjalani ikhtiar dengan benar, serta menegakkan tawakal dengan penuh keikhlasan. Aamiin.
Kajian Al-Hikam Bersama Tim Redaksi Silambu
“Menggali Hikmah, Meneguhkan Iman, dan Menebar Kemaslahatan”
Bersambung pada Hikmah ke-8 Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari.

