Hikmah Ke-5 Kitab Al-Hikam

Jangan Sibuk Mengejar yang Sudah Dijamin, Lalu Lalai dari Kewajiban

اجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ

Artinya:

“Kesungguhanmu dalam mengejar sesuatu yang telah dijamin untukmu, dan kelalaianmu terhadap apa yang dituntut darimu, merupakan tanda tertutupnya mata hati.”


Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam hikmah ini memberikan tamparan halus kepada manusia yang terlalu sibuk memikirkan urusan dunia, namun justru lalai terhadap tujuan utama kehidupannya. Hikmah ini bukan melarang manusia bekerja atau mencari rezeki, melainkan mengingatkan agar hidup tidak terbalik: terlalu serius mengejar dunia yang sudah dijamin Allah, tetapi malas menjalankan kewajiban yang diperintahkan-Nya.

Hari ini banyak orang rela bangun pagi demi pekerjaan, sanggup lembur sampai malam demi penghasilan, bahkan mengorbankan waktu, kesehatan, dan keluarga demi urusan dunia. Namun ketika adzan berkumandang, shalat ditunda. Ketika ada majelis ilmu, terasa berat untuk hadir. Ketika hati mulai jauh dari Allah, tidak segera kembali dengan taubat dan dzikir.

Inilah yang dimaksud Imam Ibnu ‘Athaillah sebagai tanda tertutupnya mata hati.


Rezeki Sudah Dijamin Allah

Allah SWT telah menetapkan rezeki setiap makhluk sebelum ia lahir ke dunia. Tidak ada satu pun manusia yang mampu mengambil jatah rezeki orang lain. Apa yang menjadi bagian kita tidak akan tertukar.

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Bahkan dalam hadits disebutkan bahwa ketika janin berada di dalam kandungan, Allah telah menetapkan empat perkara: rezeki, ajal, amal, dan nasib kehidupannya.

Namun manusia sering hidup seakan-akan rezeki berada sepenuhnya di tangannya. Hati menjadi gelisah jika usaha sedikit sepi. Mudah putus asa ketika keuntungan menurun. Bahkan terkadang demi dunia seseorang rela meninggalkan halal dan haram.

Padahal yang diperintahkan dalam Islam bukan sekadar mencari rezeki, tetapi mencari rezeki yang halal dan penuh keberkahan.


Yang Dituntut dari Manusia adalah Ibadah

Jika rezeki sudah dijamin, lalu apa yang sebenarnya dituntut Allah dari manusia?

Jawabannya adalah ibadah dan penghambaan.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Karena itu, kewajiban utama manusia bukan menjadi kaya, terkenal, atau memiliki jabatan tinggi. Yang paling utama adalah menjadi hamba Allah yang taat.

Sayangnya banyak manusia lebih takut miskin daripada takut bermaksiat. Lebih khawatir kehilangan jabatan daripada kehilangan iman. Sangat serius memperbaiki urusan dunia, tetapi tidak serius memperbaiki hati.

Ada orang yang tidak pernah terlambat bekerja, tetapi sering terlambat shalat. Ada yang sangat disiplin mengejar target usaha, tetapi lalai membaca Al-Qur’an. Ada yang rajin menjaga penampilan di hadapan manusia, tetapi tidak menjaga kebersihan hatinya di hadapan Allah.

Inilah ketimpangan hidup yang sedang dikritik oleh Imam Ibnu ‘Athaillah.


Makna “Tertutupnya Mata Hati”

Yang dimaksud “mata hati” adalah kemampuan batin untuk melihat kebenaran dan memahami hakikat kehidupan.

Mata fisik hanya melihat dunia lahiriah, tetapi mata hati melihat makna di balik kehidupan.

Ketika mata hati tertutup:

  • Dunia terlihat sangat besar
  • Akhirat terasa jauh
  • Harta dianggap sumber kebahagiaan
  • Ibadah terasa berat
  • Maksiat dianggap biasa
  • Dzikir terasa membosankan
  • Pujian manusia lebih dicari daripada ridha Allah

Padahal semua yang ada di dunia ini bersifat sementara.

Allah SWT berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Ali Imran: 185)

Orang yang mata hatinya terbuka akan menjadikan dunia hanya sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan akhir hidupnya.


Hikmah Tentang Tawakal dan Ikhtiar

Hikmah ini juga mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Sebagian orang salah memahami tawakal dengan meninggalkan usaha. Padahal Islam memerintahkan bekerja dan berikhtiar. Nabi Muhammad ﷺ sendiri berdagang, bertani, memimpin perang, dan melakukan berbagai usaha kehidupan.

Namun setelah berusaha, hati tetap harus bersandar kepada Allah, bukan kepada kemampuan diri sendiri.

Karena itu:

  • bekerja adalah kewajiban,
  • tetapi bergantung kepada pekerjaan adalah kelemahan hati.

Harta boleh ada di tangan, tetapi jangan sampai masuk ke dalam hati.


Qaul Ulama

Imam Al-Ghazali رحمه الله

“Barangsiapa yang seluruh pikirannya hanya dipenuhi urusan dunia, maka Allah akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya.”

Artinya orang yang terlalu mencintai dunia tidak akan pernah merasa cukup, meskipun hartanya banyak.


Sayyidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه

“Dunia berjalan meninggalkan kita, sedangkan akhirat berjalan mendekati kita.”

Maka orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan bekal untuk akhiratnya.


Hasan Al-Bashri رحمه الله

“Dunia hanyalah tiga hari: kemarin yang telah berlalu, esok yang belum tentu engkau temui, dan hari ini yang sedang engkau jalani.”

Karena itu jangan sampai hidup habis hanya untuk mengejar dunia yang fana.


Pelajaran yang Bisa Diambil

Dari hikmah ini kita belajar bahwa:

  1. Rezeki harus dicari dengan cara halal dan penuh tawakal.
  2. Jangan sampai pekerjaan melalaikan ibadah.
  3. Dunia adalah sarana, bukan tujuan hidup.
  4. Hati yang sehat lebih mengutamakan ridha Allah daripada pujian manusia.
  5. Kesuksesan sejati bukan banyaknya harta, tetapi ketenangan hati dan keselamatan akhirat.

Penutup

Hikmah ke-5 ini mengajak manusia untuk memperbaiki orientasi hidup. Jangan sampai tenaga, pikiran, dan usia habis untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah dijamin Allah, sementara kewajiban kepada-Nya justru dilalaikan.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan lupa bahwa tujuan utama hidup bukanlah dunia, melainkan Allah SWT.

Karena ketika mata hati terbuka, seseorang akan memahami bahwa rezeki hanyalah alat, sedangkan kedekatan kepada Allah adalah tujuan yang paling hakiki.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top