Hikmah 2 Kitab Al-Hikam

Hikmah 2 Kitab Al-Hikam

Karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari

Teks Hikmah

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ.

Terjemah

“Keinginanmu untuk hidup tanpa usaha lahiriah (tajrid), padahal Allah menempatkanmu pada dunia sebab-sebab (ikhtiar), termasuk syahwat yang samar. Dan keinginanmu terhadap dunia sebab-sebab, padahal Allah menempatkanmu pada jalan tajrid, adalah kemunduran dari cita-cita yang luhur.”


Penjelasan Hikmah

Pada hikmah kedua ini, Imam Ibnu ‘Athaillah menjelaskan tentang pentingnya memahami posisi hidup yang telah Allah tetapkan bagi setiap hamba. Tidak semua orang dipanggil untuk menjalani hidup dengan jalan yang sama.

Ada orang yang Allah tempatkan di tengah kehidupan usaha dan pekerjaan: berdagang, bertani, mengajar, memimpin masyarakat, atau mencari nafkah untuk keluarga. Maka jalan ibadahnya adalah tetap berikhtiar sambil menjaga hati agar selalu bersama Allah.

Namun ada pula hamba yang Allah beri jalan khusus untuk fokus dalam ibadah, ilmu, dakwah, dan meninggalkan kesibukan dunia yang berlebihan. Maka itulah maqam yang harus dijaga.

Imam Ibnu ‘Athaillah mengingatkan bahwa memaksa diri keluar dari ketentuan Allah hanya karena mengikuti hawa nafsu spiritual atau keinginan pribadi adalah kesalahan.


Kandungan dan Hikmah

1. Setiap Orang Memiliki Jalan Pengabdian yang Berbeda

Tidak semua orang harus menjadi ahli uzlah atau meninggalkan pekerjaan dunia. Begitu juga tidak semua orang harus sibuk mengejar dunia.

Allah lebih mengetahui posisi terbaik bagi hamba-Nya.

“Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Karena itu, ukuran kemuliaan bukan pada bentuk lahir kehidupan, tetapi pada sejauh mana hati taat kepada Allah.


2. Bekerja dan Berikhtiar Bukan Lawan dari Tawakal

Sebagian orang ingin terlihat sangat tawakal dengan meninggalkan usaha, padahal Allah masih memerintahkannya bekerja.

Padahal para nabi juga bekerja:

  • Nabi Dawud bekerja sebagai pandai besi.
  • Nabi Musa menggembala.
  • Nabi Muhammad ﷺ berdagang.

Maka mencari nafkah halal dengan niat ibadah adalah bagian dari jalan menuju Allah.


3. Jangan Memaksakan Maqam Orang Lain

Kadang seseorang melihat kehidupan ahli ibadah lalu ingin menirunya secara lahiriah, padahal dirinya belum siap.

Akibatnya:

  • meninggalkan tanggung jawab,
  • malas bekerja,
  • membebani orang lain,
  • bahkan merasa dirinya lebih suci.

Inilah yang disebut Imam Ibnu ‘Athaillah sebagai “syahwat tersembunyi”, yaitu keinginan ego yang dibungkus alasan spiritual.


4. Fokus pada Tempat yang Allah Tetapkan

Hikmah ini mengajarkan ketenangan.

Jika hari ini Allah menempatkan kita sebagai:

  • petani,
  • pedagang,
  • pengurus organisasi,
  • guru,
  • aparat,
  • pengurus masjid,
  • atau kepala keluarga,

maka jalani amanah itu dengan ikhlas.

Karena jalan menuju Allah tidak harus meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana mendekat kepada-Nya.


Relevansi dalam Kehidupan Saat Ini

Di zaman sekarang, banyak orang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain melalui media sosial dan ceramah-ceramah pendek.

Ada yang merasa hidupnya kurang islami hanya karena masih sibuk bekerja. Padahal bisa jadi pekerjaan itu justru ladang ibadah yang Allah bukakan.

Yang terpenting bukan bentuk aktivitasnya, tetapi:

  • keikhlasan niat,
  • kejujuran,
  • menjaga halal haram,
  • dan tetap mengingat Allah.

Penutup

Hikmah kedua Al-Hikam mengajarkan bahwa jalan menuju Allah harus sesuai dengan ketetapan dan panggilan yang Allah berikan kepada masing-masing hamba.

Jangan iri pada maqam orang lain, dan jangan memaksa diri keluar dari posisi yang Allah amanahkan.

Tugas kita adalah:

  • ikhlas dalam menjalani keadaan,
  • menjaga hati tetap dekat kepada Allah,
  • dan istiqamah dalam ketaatan.

Karena kemuliaan bukan terletak pada bentuk kehidupan, tetapi pada kedekatan hati kepada Allah.


Wallahu a‘lam bish-shawab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top