“Kesungguhan Mengejar Dunia dan Lalai terhadap Ibadah”
Teks Hikmah
اجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ
Latin
Ijtihāduka fīmā ḍumina laka, wa taqṣīruka fīmā ṭuliba minka, dalīlun ‘alā inṭimāsil-baṣīrati minka.
Artinya
“Kesungguhanmu dalam mengejar sesuatu yang sudah dijamin untukmu, dan kelalaianmu terhadap sesuatu yang dituntut darimu, merupakan tanda butanya mata hatimu.”
Penjelasan Hikmah
Dalam hikmah ini, Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengingatkan manusia tentang kesalahan yang sering terjadi dalam hidup:
terlalu sibuk mengejar urusan dunia yang sebenarnya sudah dijamin Allah, tetapi lalai terhadap kewajiban yang diperintahkan-Nya.
1. Rezeki Sudah Dijamin Allah
Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Namun manusia sering menghabiskan seluruh tenaga, pikiran, bahkan waktunya hanya untuk urusan dunia:
- takut miskin,
- takut kehilangan pekerjaan,
- takut masa depan,
- terlalu cemas soal penghasilan.
Padahal rezeki tidak akan tertukar.
Bukan berarti kita tidak boleh bekerja. Islam justru memerintahkan ikhtiar. Tetapi yang dikritik oleh Imam Ibnu ‘Athaillah adalah ketika:
- hati terlalu bergantung pada usaha,
- dunia menjadi pusat kehidupan,
- sampai melupakan shalat, dzikir, ilmu, dan ketaatan.
2. Kewajiban Justru Dilalaikan
Yang diminta Allah dari manusia adalah:
- ibadah,
- taat,
- menjaga hati,
- memperbaiki akhlak,
- mendekat kepada-Nya.
Tetapi anehnya, manusia justru sering:
- menunda shalat demi pekerjaan,
- malas mengaji tetapi rajin mencari uang,
- sibuk mempercantik dunia tetapi lupa memperbaiki hati.
Inilah yang disebut oleh Imam Ibnu ‘Athaillah sebagai:
“tertutupnya mata hati.”
Karena jika hati benar-benar melihat hakikat hidup, maka manusia akan memahami:
- dunia hanya sementara,
- sedangkan akhirat adalah tujuan utama.
Pelajaran yang Bisa Diambil
✦ Bekerjalah, tapi jangan bergantung pada pekerjaan
Sandarkan hati kepada Allah, bukan kepada jabatan atau usaha.
✦ Dahulukan kewajiban sebelum kesibukan dunia
Karena yang ditanya Allah pertama kali bukan penghasilan, tetapi amal.
✦ Rezeki bukan hanya uang
Kesehatan, ketenangan, keluarga baik, ilmu, dan iman juga rezeki.
✦ Hati yang sehat akan seimbang
Ia bekerja untuk dunia, tetapi hidup untuk akhirat.
Renungan
Kadang manusia sangat disiplin mengejar dunia:
- bangun pagi,
- bekerja keras,
- tidak pernah terlambat.
Tetapi ketika dipanggil shalat:
- ditunda,
- disibukkan,
- bahkan dilupakan.
Maka hikmah ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:
“Mengapa aku begitu serius mengejar sesuatu yang sudah dijamin Allah, tetapi lalai terhadap sesuatu yang Allah minta dariku?”
Penutup
Hikmah ketiga ini mengajarkan keseimbangan:
- tetap berikhtiar,
- tetap bekerja,
- tetap mencari nafkah,
namun hati jangan sampai tenggelam dalam dunia hingga melupakan Allah.
Karena ketenangan hidup bukan lahir dari banyaknya harta, tetapi dari dekatnya hati kepada Sang Pemberi Rezeki.

